Belajar dari Park Ji-Sung (Bag. terakhir)

January 25th, 2013

Park Ji-Sung                Pergi ke Eropa dan bermain di liga Belanda yang merupakan salah satu liga bergengsi di dunia ternyata bukanlah semudah yang sering dikatakan oleh orang-orang. Di klub barunya ini, Ji-Sung justru mengalami tantangan lebih besar lagi baik dari anggota tim maupun supporter loyal klub.

“My life had always been like that until then. Since I was unnoticed on the ground, the only thing I held on to was my guts. Regardless of whether others saw or not, just doing the best was my virtue I lived on. It was only my spirit that kept me alive on the ground despite all my handicaps.”

[Hidupku selalu seperti itu hingga saat [dimana aku bermain di liga Eropa]. Karena aku tidak menonjol di lapangan, satu-satunya hal yang aku andalkan adalah naluriku. Tidak peduli apakah orang lain melihatku atau tidak, melakukan yang terbaik adalah satu-satunya nilai hidupku. Hanya semangatku yang membuatku tetap hidup di lapangan walaupun aku punya banyak kekurangan.] – Park Ji-Sung saat ia bermain di Liga Belanda.

Saat ia tiba di klub, ia menjadi buah bibir dari para supporter dan pemerhati liga. Tetapi saat ia baru mulai bermain, segalanya berubah. Cedera lutut mulai menghantui dan akibatnya performanya di lapangan tidak sebaik yang bisa ia harapkan. Mood para supporter pun mulai memburuk sebab ia tidak dapat membantu tim untuk meraih kemenangan. Pelatih Guus Hiddink pun membantunya dengan mengurangi waktu bermainnya. Ia hanya diturunkan pada paruh pertama pertandingan untuk mengurangi stress dan tekanan dari supporter, tetapi itupun tidak membantu. Ji-Sung pun menerima ejekan dari supporter timnya sendiri. Tiap kali ia masuk lapangan, 35 ribu fans berdiri dan mengejeknya, ia bisa merasakan bahwa mereka mengejeknya lebih daripada mereka mengejek anggota tim lawan.

Begitu takutnya ia pada dunia luar dan fans sehingga ia tidak pernah keluar dari rumahnya di Belanda pada waktu itu. Yang ia tahu hanya latihan dan pulang ke rumah. Ia pun mulai takut pada bola dan berharap saat ia masuk ke lapangan, ia tidak pernah harus menerima dan menggiring bola menuju gawang lawan. Begitu berat tekanannya pada saat itu hingga ia merasa mungkin inilah waktunya untuk ia berhenti bermain sepakbola di Eropa dan pulang ke negaranya. Diejek sedemikian rupa merupakan kali pertama untuk Ji-Sung yang sejak kecil hanya tahu bermain bola.

Suatu hari, saat ia duduk di ruang ganti pemain setelah ia cedera untuk kesekian kalinya, Guus Hiddink mengunjunginya dan berkata padanya melalui seorang penterjemah, “Kamu memiliki semangat yang kuat dan aku sangat yakin bahwa kamu akan menjadi seorang pemain yang luar biasa dengan semangat itu.” Kata-kata itu memotivasi Ji-Sung dan membuatnya bersemangat lagi, lebih bersemangat daripada saat orang lain memujinya dan berkata bahwa ia adalah pemain yang berbakat. Bahkan, kata-kata inilah yang terngiang-ngiang di kepalanya saat ia membela Korea Selatan di piala dunia 2006.

Ji-Sung akhirnya memutuskan bahwa perubahan harus terjadi. Liga sepakbola di Eropa ini bukanlah liga main-main, irama permainannya sangat cepat dan juga kontak fisik sering terjadi, dimana seorang yang berasal dari Asia akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Saat ia melihat kebelakang, ia menemukan kesalahannya, “Jika saja aku menjalani operasi lutut lebih awal, cederaku tidak akan menjadi masalah sebesar ini. Dengan lutut yang cedera, aku tidak dapat menunjukkan performa terbaikku dan terus menerus merasakan kesakitan di kakiku [saat aku berlari].” Setelah menjalani operasi, ia pun menjaga dan melatih tubuhnya dengan hati-hati supaya ia bisa tampil dengan baik dalam pertandingan. Tidak ada pemain lain yang menjaga tubuhnya sekeras Ji-Sung.

Setelah operasinya berhasil dan ia diijinkan untuk mulai bertanding lagi, ia pun akhirnya menunjukkan performa terbaiknya. Para supporter pun mulai memperlakukannya dengan berbeda setelah melihat bahwa Ji-Sung adalah seorang pemain yang benar-benar memberikan 100% usahanya, bahkan lebih. Ji-Sung pun menerima kehormatan dari para supporter yaitu dibuatkan sebuah lagu yang dinyanyikan di stadion saat ia diturunkan dalam pertandingan. Ia sendiri merasa heran dengan tingkah laku para supporter yang berubah sedemikian rupa.

Penampilannya yang semakin meningkat akhirnya menarik perhatian seorang pencari bakat di Belanda. Pencari bakat ini kemudian menelepon atasannya dan mengabarkan tentang Ji-Sung dan bagaimana pemain ini sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh si pelatih. Si pelatih yang tertarik kemudian memutuskan untuk menonton pertandingan Liga Champions UEFA antara PSV Eindhoven melawan Lyon dimana Ji-Sung diturunkan sebagai pemain dan akhirnya berhasil memasukkan satu gol kemenangan. Pertandingan ini mengubah jalan hidup Ji-Sung sekali lagi.

“Aku mendengar [ada yang bilang] ‘Pelatih mau berbicara denganmu dan beliau sudah menunggu.’ Pada saat itu, aku masih tidak bisa mengerti bahasa Inggris. Kami berbicara tetapi aku tidak dapat mengerti semua [yang beliau bicarakan]. [Yang dapat aku mengerti adalah] ‘Kami membutuhkanmu,’ kata Ferguson. ‘[Ruud] Van Nistelrooy juga datang ke [Manchester] dari PSV dan ia cukup sukses. Ini sebabnya kamu juga akan sukses di [Manchester] juga.’ “ kenang Ji-Sung.

Pada bulan Juni tahun 2005, Ji-Sung resmi bergabung dengan Manchester United, sebuah tim kelas atas di Liga Primer Inggris yang merupakan liga paling bergengsi di dunia. Tim ini adalah tim impian semua pemain sepakbola yang ingin menjadi pemain bola profesional, dan Ji-Sung menjadi orang asia pertama yang berhasil masuk menjadi salah satu pemainnya. Siapa sangka seorang bayi kecil yang sakit-sakitan, anak yang tidak dapat tumbuh tinggi dengan baik, dan pemain yang selalu ditolak untuk masuk tim oleh berbagai pelatih, justru menjadi pemain yang terpilih untuk masuk jajaran pemain kelas atas dunia?

Walaupun ia mengalami tantangan yang sama saat masuk ke PSV, dimana beberapa fans sepakbola mengejeknya sebagai “penjual seragam sepakbola dari Asia” dan media Inggris ada yang meramalkan bahwa “paling banyak [Ji-Sung] hanya akan memanasi bangku cadangan” serta tidak menganggap bahwa Ji-Sung pantas menjadi salah satu anggota squad tim Manchester United; ia tidak menyerah. Kali ini, ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia harus menjalani operasi lutut sekali lagi di Amerika, karena cedera lututnya kambuh lagi pada tahun 2007. Kali ini, bahkan pelatih fisik tim MU pun memujinya, “Jika saja itu orang lain [selain Ji-Sung], orang tersebut mungkin akan gantung sepatu. Tapi di kasus ini, Ji-Sung justru menunjukkan kekuatan karakter dan kepribadiannya yang kuat.”

7 tahun ia bermain di Manchester United, saat ia berpindah klub, banyak fans MU yang tidak melupakan jasa-jasanya. Ribuan fans mengharapkan agar ia tetap menjadi Park Ji-Sung yang mereka kenal, seorang yang rendah hati dan pekerja keras untuk kemajuan timnya. Namun terlepas dari ketenaran yang ia dapatkan, ia tetaplah seorang anak yang baik bagi orangtuanya, seorang bintang yang sederhana dan tidak sombong dengan segala pencapaian yang ia dapatkan. Dari seorang pemain yang luar biasa hingga menjadi seorang legenda; dari seorang pemain sepakbola biasa hingga menjadi pahlawan Korea Selatan; dialah Park Ji-Sung.

“Father, I don’t want to be a star player for Manchester United. First, I would be fine with 10 minutes, then 20 minutes, then I would be really happy to play just for the first half. But if I keep going on like this, who knows if a day will come when I can play with Van Nistelrooy and Rooney on the same ground all the time?”

[Ayah, aku tidak mau menjadi pemain bintang untuk Manchester United. Pertama-tama, aku akan merasa bahagia [jika aku bisa bermain] untuk 10 menit saja, kemudian 20 menit, kemudian aku akan sangat bahagia untuk bermain hanya separuh pertandingan saja. Tetapi jika aku terus menerus mempertahankan performaku seperti ini, siapa tahu nanti akan datang harinya saat aku bisa bermain dengan Van Nistelrooy dan Rooney di lapangan yang sama setiap saat?] – Park Ji-Sung kepada ayahnya saat ia baru bergabung di Manchester United. 

(dari berbagai sumber)

Gambar diambil dari sini

Incoming search terms:

  • park jisung legenda korea

Leave a Reply